Sumber foto: vektorstock.com

Apa itu uang?

Uang adalah seseuatu yang kita pakai untuk bertukar barang yang kita inginkan. Semua orang membutuhkanya, hingga mereka mau menukar waktunya untuk uang. Masa demi masa bentuk uang berbeda-beda, mulai dari kerang dan kertas hingga kini muncul mata uang crypto.

Masa awal dari barter 

Disaat manusia mulai berkembang ke era agrikultur, setiap manusia memiliki keahlian yang unik begitupun komoditas di setiap daerah yang berharga pula. Manusia menggunakan sistem barter sebagai alat transaksinya. Tetapi sistem ini memiliki banyak kekurangan salah satunya manusia sangat sulit mengetahui nilai suatu barang. Contohnya, jika seorang pedagang ayam yang ingin membeli sebuah rumah, maka berapa banyak ekor untuk membeli rumah? ayampun adalah hewan yang umurnya tidak tahan lama dan pasti akan mati. Sehingga sistem barter tidak dapat menyimpan nilai antar waktu dan ruang, begitupun untuk mentrasaksikanya sangatlah rumit.

Karena kekurangan dari barter, manusia memutuskan untuk membuat alat yang dapat mewakilkan nilai dari barang tersebut. Alat ini disebut sebagai uang. Dan uang yang baik harus memiliki fungsi dapat menyimpan nilai, dapat diukur sebagai alat hitung, dan tentunya bisa di tukar dengan kebutuhan manusia.

Untuk memastikan sifat tersebut tetap terjaga maka uang itu harus langka, tidak dapat di palsukan dan dapat di cek keaslianya.

 

Uang Primitif

Bentuk uang berubah dari masa ke masa. Dari abad ke 16 hingga ke 20, masyarakat Afrika Barat menggunakan biji gelas sebagai uang. Orang asli Amerika menggunakan kerang sebagai uang di abad ke 16. Contoh yang paling menarik, di abad ke 19 masyarakat Pulau Yap menggunakan batu setinggi 12 kaki (yang disebut Batu Rai) sebagai uang. Namun komoditas ini memiliki kekurangan yaitu uang yang berharga di satu tempat belum tentu berharga di tempat lain. Tentunya kita sebagai manusia membutuhkan uang yang dapat diterima secara umum dan dapat menyimpan nilai

Sumber foto: merdeka.com

Era emas abad ke 3 hingga ke 20

Dengan perkembangan metalurgi, manusia dapat membentuk elemen menjadi beragam bentuk dan juga menjadikannya seragam. Selain elemen ini sulit untuk dicari, manusia melihatnya sebagai langka dan terbatas, sehingga membuatnya berharga. Tak lupa bahwa manusia membutuhkan waktu yang lama untuk menguasai seni metalurgi. Manusia pun menggunakan logam sebagai bentuk mata uang. Emas dan perak dipilih sebagai mata uang karena mereka tidak akan rusak atau berkarat seperti logam lainnya. Emas bahkan lebih langka dibandingkan dengan perak. Karena emas tidak akan rusak selama berabad-abad, maka emas menjadi uang yang lebih superior untuk menyimpan nilai antar waktu.

Emas kemudian menjadi uang dari abad ketiga hingga abad keduapuluh. Walaupun emas lebih superior dibandingkan dengan uang lain, tetapi emas memiliki permasalahan. Emas batangan cukup berat dan memindahkan emas dari satu tempat ke tempat yang lain membutuhkan usaha yang besar. Seseorang harus menyewa penjaga untuk menjaga emas dari pencuri atau perampok. Pada saat bank awal dibentuk, mereka memutuskan daripada memindahkan emas dari satu tempat ke tempat yang lain, bank akan berperan sebagai penjaga dari emas batangan tersebut dan mengeluarkan sertifikat emas yang nantinya dapat ditukar dengan emas asli. Masyarakat senang dengan ide ini karena sertifikat emas lebih mudah untuk dibawa daripada emas batangan.

Bank pun semakin populer, dan juga metode fractional reserve banking yang dimulai pada abad ke 17. Metode ini memungkinkan bank untuk menyimpan 10 persen atau kurang dari uang yang disimpan oleh penabung, dan bank dapat meminjamkan sisa 90 persen atau lebih kepada individu atau perusahaan yang lain. Sehingga dari praktek ini, bank dapat menciptakan lebih banyak sertifikat atau uang kertas dibandingkan dengan emas yang menyokongnya. Hal ini terjadi pada Scali Bank di akhir tahun 1400an dan juga Bank of Amsterdam di tahun 1600an. Praktek ini terus berlangsung hingga saat ini.

Sebelum perang dunia pertama, kebanyakan mata uang dunia disokong oleh emas atau perak. Sebagai contoh, Pound Sterling Inggris disokong oleh perak dan Dutch Guilder disokong oleh emas. Namun setelah Perang Dunia pertama, banyak pemerintah mulai mencetak uang tanpa sokongan emas atau perak untuk membiayai perang.

Sumber foto: nbcnews.com

Kemunculan uang fiat

Pada tahun 1944, dimasa perang dunia kedua, 44 negara bertemu di Bretton Woods. Melalui pertemuan ini, mereka memutuskan bahwa Dollar AS menjadi mata uang dunia untuk perdagangan dan para bank sentral akan menggunakannya untuk perdagangan dan menyelesaikan transaksi, sehingga merek tidak lagi memerlukan untuk memindahkan emas fisik. Negara-negara pun pada akhirnya mengkaitkan mata uang mereka dengan Dollar AS, sedangkan Dollar AS disokong oleh emas. Dollar AS akhirnya secara efektif menjadi mata uang global. Dan Amerika Serikat memegang suplai emas terbesar di dunia.

Disaat ekonomi Amerika Serikat berjaya, Amerika membeli banyak barang impor yang dibayarkan dengan Dollar AS. Adanya defisit neraca pembayaran membuat para pemerintah asing menjadi khawatir apabila Amerika Serikat tidak lagi menyokong mata uangnya dengan dollar. Hal ini menyebabkan banyak negara menginginkan untuk menukar Dollar AS dengan emas. Pada tahun 1970an, suplai emas di Amerika Serikat pun menurun. Sehingga pada tahun 1971, dibawah pemerintahan Presiden Nixon, Amerika Serikat memutuskan bahwa mereka tidak lagi menginginkan mata uang mereka disokong oleh emas. Ini memutus hubungan antara emas dengan Dollar AS, yang mana juga mengakhiri hubungan antara emas dan seluruh mata uang dunia. Sistem moneter dunia bertransisi dari standar emas ke standar fiat.

Kata Fiat berasal dari bahasa latin “fiat” yang berarti “atas perintah”. Uang fiat adalah uang yang disokong oleh kepercayaan terhadap pemerintah. Jadi secara singkatnya, uang fiat adalah mata uang yang dicetak oleh otoritas sentral dan dideklarasikan sebagai tender resmi yang didasarkan oleh kepercayaan terhadap pemerintah.

Uang fiat tidak disokong oleh emas dan suplai nya dikontrol oleh bank sentral. Pada saat dibutuhkan atau terjadi krisis, pemerintah dapat meningkatkan suplai uang melalui percetakan uang dengan harapan untuk menyediakan stimulus agar perekonomian berkembang. Namun, percetakan uang lambat laun akan mengurangi nilai dari uang fiat. Sehingga, tergantung dari berapa besaran uang yang dicetak dinegara tempat anda tinggal, maka nilai uang yang anda simpan di dalam uang fiat tersebut lambat laun akan menjadi tak bernilai dimasa depan.

Sumber foto: market.bisnis.com

Era internet lahirnya uang baru

Disaat internet muncul dan diterima oleh masyarakat luas, perubahan pun terjadi. Walaupun banyak transaksi dilakukan dalam bentuk uang kartal (koin atau kertas), pembayaran barang dan jasa makin lama semakin digital. Kita menggunakan bank, kartu kredit, e-wallet dan bentuk teknologi pembayaran lainnya untuk mentransaksikan nilai, dan uang kita sebenarnya disimpan dalam bentuk digital di dalam saldo rekening bank. Namun, seluruh bank bekerja secara terisolasi karena setiap bank mengurus database sendiri-sendiri. Penyelesaian transaksi antar bank terjadi dalam hitungan hari bahkan minggu. Walaupun uang fiat masih menang dari segi kecepatan dan transportabilitas, tetapi uang fiat masih bergantung dengan otoritas sentral untuk memperbaharui buku besar, mengeluarkan mata uang dan memastikan bahwa sistem keuangan berjalan. Sehingga, transaksi menjadi semakin mahal dan semakin rumit.

Bitcoin dan era baru mata uang kripto

Muncullah Bitcoin. Dibentuk pada tahun 2008, Bitcoin adalah uang digital yang bertujuan untuk memberikan alternatif dari sistem/jaringan moneter dimana para penggunanya tidak harus bergantung dengan pihak sentral disaat melakukan transaksi. Bitcoin cocok untuk menyimpan nilai antar ruang dan waktu. Dengan menggunakan teknologi blockchain, orang dapat melakukan transaksi Bitcoin antar sesama tanpa bergantung dengan bank atau sistem finansial yang sudah ada. Dengan menggunakan kriptografi, bitcoin memastikan keamanan dan privasi dari uang. Bitcoin menjadi uang yang terdesentralisasi dan tanpa sistem kepercayaan yang diatur oleh algoritma komputer. Dengan blockchain, bitcoin juga mengatasi permasalahan double-spending dari mata uang digital.

Berbeda dengan uang fiat dimana suplainya dapat ditambahkan dari waktu ke waktu, suplai bitcoin itu tetap 21 juta BTC. Karena bitcoin disimpan di dalam internet, penyelesaian transaksi dapat diselesaikan dalam hitungan menit. Dan karena suplai Bitcoin itu tetap, maka semakin banyak orang menggunakannya dan permintaan bitcoin pun meningkat. Ini menyebabkan harga Bitcoin naik secara eksponensial karena kelangkaan dan efek dari jaringannya. Suplai yang tetap juga membuat bitcoin sebagai alat penyimpan nilai yang lebih baik dari emas, sehingga bitcoin tidak hanya berperan sebagai uang tetapi juga sebagai komodias. Bitcoin dapat menyimpan nilai lebih baik dari uang fiat ataupun emas antar ruang dan waktu.

Selain dari bitcoin, juga ada mata uang kripto yang lain. Setiap mata uang kripto itu berbeda dan mereka berusaha untuk mengatasi berbagai macam permasalahan dalam sistem moneter. Kita akan membahas perbedaan mata uang kripto yang lain di pembahasan selanjutnya.

Sumber foto: currency.com

Sumber: pintu.co.id